34ºc, Sunny
Halo... Berita hari ini 18-Jun-2026 3:29:37
Berita Kampusku – Sekolah Tinggi Teologi (STT) Siloam Medan bekerja sama dengan Asosiasi Riset Ilmu Pendidikan Agama dan Filsafat Indonesia (ARIPAFI) sukses menyelenggarakan Seminar Nasional dan Call Paper bertajuk “Relevansi Pendidikan Agama dan Filsafat dalam Membangun Etika di Era Artificial Intelligence” secara daring melalui Zoom pada Rabu (17/6/2026).
Kegiatan ini menghadirkan akademisi dan praktisi dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia untuk mendiskusikan tantangan, peluang, serta implikasi etis dari perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) terhadap kehidupan manusia, pendidikan, agama, dan moralitas.
Acara dibuka oleh Ketua STT Siloam Medan Merlin Santinus, M.Pd.K., serta sambutan dari Dr. Nerli Setiyaningsih, S.Pd., M.Pd. dari Sekolah Tinggi Pastoral Kateketik Santo Fransiskus Asisi Semarang.
Pada sesi utama, Prof. Dr. Ramlan Silaban, M.Si. dari Universitas Negeri Medan selaku keynote speaker menyampaikan materi berjudul “Artificial Intelligence, Kebenaran Ilmiah, dan Moralitas: Kontribusi Filsafat Ilmu dalam Membangun Etika Digital.”
Dalam paparannya, Prof. Ramlan menjelaskan bahwa kemajuan teknologi AI tidak hanya menghadirkan inovasi dalam berbagai bidang, tetapi juga memunculkan pertanyaan mendasar mengenai kebenaran, tanggung jawab, dan moralitas. Menurutnya, filsafat ilmu memiliki peran strategis dalam memberikan landasan kritis untuk menilai validitas pengetahuan yang dihasilkan oleh teknologi sekaligus memastikan bahwa perkembangan AI tetap berpihak pada nilai-nilai kemanusiaan.
Ia menegaskan bahwa etika digital harus dibangun di atas kesadaran bahwa teknologi merupakan alat yang diciptakan manusia, sehingga penggunaannya harus selalu berada dalam koridor moral dan tanggung jawab sosial.
Narasumber pertama, Dr. Martina Novalina, Amd.Par., dari Sekolah Tinggi Teologi Ekumene Jakarta, membawakan materi “Filsafat Moral dan Krisis Etika Digital: Membaca Ulang Hakikat Manusia di Era Artificial Intelligence.”
Dr. Martina mengulas berbagai persoalan etika yang muncul akibat transformasi digital, seperti menurunnya empati, penyalahgunaan informasi, hingga kecenderungan manusia bergantung pada teknologi. Ia mengajak peserta untuk kembali merefleksikan hakikat manusia sebagai makhluk bermoral yang memiliki kebebasan, tanggung jawab, dan kemampuan untuk mengambil keputusan etis di tengah perkembangan teknologi yang semakin kompleks.
Pada sesi berikutnya, Dr. Rinto Francius Sirait, S.Pd., M.Th. dari STT Siloam Medan menyampaikan materi berjudul “Etika Persimpangan Zaman: Peran Pendidikan Agama dalam Menjawab Tantangan Artificial Intelligence.”
Ia menekankan bahwa pendidikan agama memiliki fungsi penting dalam membentuk karakter, integritas, dan kesadaran moral generasi muda. Di tengah pesatnya perkembangan AI, pendidikan agama tidak hanya berperan sebagai sarana transfer nilai, tetapi juga sebagai instrumen untuk membimbing masyarakat agar mampu menggunakan teknologi secara bijaksana, bertanggung jawab, dan berorientasi pada kemaslahatan bersama.
Narasumber ketiga, Ir. Rosyid Ridlo Al-Hakim, S.Kom., S.Si., M.T., CFT, CDES, CITSA. dari Universitas Harapan Bangsa, memaparkan materi “Ekstensi Eksistensi: Menemukan Kembali Peran Manusia di Era Kecerdasan Buatan.”
Dalam pemaparannya, ia menyoroti pentingnya menjaga identitas dan eksistensi manusia di tengah meningkatnya kemampuan AI yang mampu meniru berbagai fungsi kognitif manusia. Menurutnya, kreativitas, empati, intuisi, dan nilai-nilai kemanusiaan tetap menjadi aspek yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh mesin. Oleh karena itu, manusia perlu memperkuat kompetensi yang bersifat humanistik agar tetap relevan di era digital.
Sementara itu, narasumber keempat, Ratno Susanto, M.Pd. dari Universitas Nusa Cendana, Nusa Tenggara Timur, menyampaikan materi “Ketika Mesin Berpikir, Manusia Harus Beretika: Agama dan Filsafat di Era AI.”
Ratno menjelaskan bahwa semakin canggih teknologi yang dikembangkan manusia, semakin besar pula kebutuhan akan penguatan etika. Ia menegaskan bahwa agama dan filsafat dapat menjadi dua pilar penting dalam mengarahkan pemanfaatan AI agar tidak hanya berorientasi pada efisiensi dan produktivitas, tetapi juga menjunjung tinggi keadilan, kemanusiaan, dan keberlanjutan kehidupan sosial.
Seminar yang dimoderatori oleh Martina Rosmaulina Marbun, S.Pd., M.Hum. ini berlangsung interaktif dengan partisipasi peserta dari berbagai perguruan tinggi, lembaga pendidikan, dan komunitas akademik di Indonesia.
Melalui kegiatan ini, STT Siloam Medan dan ARIPAFI berharap dapat memperkuat kolaborasi akademik dalam mengembangkan kajian pendidikan agama, filsafat, dan etika digital sebagai respons terhadap transformasi teknologi yang terus berkembang. Seminar ini juga menjadi ruang refleksi bersama bahwa di tengah kemajuan Artificial Intelligence, nilai-nilai kemanusiaan, moralitas, dan kebijaksanaan tetap harus menjadi fondasi utama dalam membangun peradaban digital yang beretika dan berkelanjutan.