34ºc, Sunny
Halo... Berita hari ini 15-Feb-2026 8:19:18
Sebagai mahasiswa semester 3, saya sadar akan satu hal: dunia kampus itu identik dengan intelektualitas, etika, dan kepercayaan. Nama dosen, peneliti, dan institusi akademik punya bobot moral yang tinggi. Tapi justru karena itu, saya sendiri makin resah ketika melihat satu celah serius yang sering dianggap sepele: keamanan sistem informasi akademik, khususnya soal kontrol akses.
Buat orang awam, istilah ini mungkin kedengeran ribet. Tapi kalau disederhanakan, kontrol akses itu cuma satu pertanyaan penting:
siapa boleh ngapain di sistem?
Masalahnya, di banyak sistem akademik, pertanyaan sesederhana itu sering ga dijawab dengan tegas.
Banyak orang masih mikir, ancaman digital itu harus berupa “hack gede”: SQL injection, deface, atau tampilan web berubah aneh. Padahal, di dunia nyata, ancaman paling berbahaya justru datang tanpa ribut.
Bayangin gini:
seorang pengguna biasa bisa ngubah data milik pengguna lain, cuma karena sistem percaya sama data yang dikirim dari browser. Ga ada error. Ga ada alarm. Semuanya keliatan normal. Tapi secara fungsi, itu udah pelanggaran serius.
Inilah yang disebut pelanggaran kontrol akses / (BAC).
Dan parahnya, ini bisa kejadian tanpa perlu skill dewa, tanpa tools aneh-aneh. Cukup paham alur request dan sedikit logika.
Karena sistem akademik itu bukan sekadar aplikasi, tapi sumber legitimasi.
Di dalamnya ada:
data dosen dan peneliti,
identitas akademik,
berita dan pengumuman resmi,
aktivitas organisasi dan asosiasi.
Kalau kontrol aksesnya bocor, risikonya bukan cuma soal data. Tapi soal kepercayaan publik.
saya jujur aja. Di dunia hacking, yang dipikirin itu bukan “apa yang kelihatan mustahil”, tapi “gimana caranya bikin yang mustahil jadi mungkin”.
Skenario paling ngeri bukan deface, tapi ini:
Seseorang dengan akses tertentu bisa:
memantau aktifitas akademik,
tanam script backdor,
ninggalin itu berhari-hari atau berminggu-minggu,
lalu dump database, screenshot dan sebar ke darkweb.
Saat netizen ngecek:
domain resmi ??data valid?? ga bisa lagi dicegah??
Akhirnya apa?
ketika viral, klarifikasi teknis sering kalah cepat dari opini publik.
Hal paling nyesek dari insiden digital kayak gini adalah:
yang sering kena dampaknya justru manusia biasa.
Mahasiswa, Admin, operator, atau staf IT bisa: disalahkan, data pribadinya bocor, dianggap lalai, bahkan kehilangan pekerjaan.
Padahal akar masalahnya bukan di mereka, tapi di:
desain sistem, kurangnya validasi akses, dan minimnya kesadaran risiko sejak awal.
Ini bukan soal individu, ini soal sistem.
Jujur aja, di Indonesia, keamanan siber sering dianggap:
biaya tambahan, urusan teknis, atau “nanti aja kalau kejadian”.
Bahkan ada kasus di mana laporan kerentanan disampaikan secara gratis, tapi:
ga ditindak, dibiarkan, atau dianggap ga penting.
Padahal di era AI dan disinformasi, ancaman digital makin rapi, makin halus, dan makin susah dibedain dari yang asli.
Sebagai mahasiswa, saya menulis ini bukan untuk menyalahkan siapa pun. Ini murni keresahan. Karena kalau sistem akademik runtuh kepercayaannya, yang kena dampak bukan cuma satu dua orang, tapi:
institusi, anggota, dan masyarakat luas.
Keamanan digital itu bukan soal “takut dihack”, tapi soal:
menjaga kepercayaan yang dibangun bertahun-tahun supaya ga hancur dalam hitungan hari.
Pelanggaran kontrol akses mungkin terdengar teknis, tapi dampaknya sangat manusiawi. Ia bisa merusak reputasi, menelanjangi identitas, dan menghancurkan kepercayaan publik terhadap dunia akademik.
Kalau dunia akademik ingin tetap jadi ruang yang dipercaya, maka keamanan sistem informasinya juga harus diperlakukan dengan serius. Bukan setelah kejadian, tapi sebelum semuanya terlambat.
Dan mungkin, keresahan mahasiswa semester 3 ini terdengar kecil. Tapi sering kali, perubahan besar justru dimulai dari kegelisahan yang dianggap remeh.
sekian terimakasih...
RIEZKYAS