34ºc, Sunny
Halo... Berita hari ini 03-Nov-2026 18:45:10
Suasana pagi di penghujung Oktober terasa berbeda di lingkungan Kampus Universitas PTIQ Jakarta ketika derap langkah intelektual para calon doktor ilmu Al Quran dan Tafsir beradu dengan ketukan waktu yang berjalan begitu cepat di ruang virtual penuh konsentrasi tinggi. Kamis tanggal 29 Oktober 2026 menjadi sebuah momentum monumental yang merekam jejak perjuangan akademik tingkat tinggi melalui penyelenggaraan ujian komprehensif lisan bagi delapan mahasiswa program studi doktor yang bersiap merentangkan cakrawala pemikiran keislaman kontemporer menuju masa depan peradaban yang lebih mencerahkan.
Ruang layar kaca yang terhubung lewat jaringan digital mendadak berubah menjadi kawah candradimuka tempat di mana argumen diuji, ketajaman metodologi dipertanyakan, serta kedalaman penguasaan khazanah tafsir klasik maupun modern dibenturkan secara elegan. Delapan nama terdaftar dalam lembar daftar peserta resmi yang memuat jadwal ketat sejak pagi hingga menjelang siang hari menunjukkan betapa seriusnya institusi ini menjaga marwah akademik tanpa kompromi sedikit pun terhadap kualitas keilmuan para mahasiswanya.
Deretan nama pejuang gelar doktor tersebut meliputi Abid Nurhuda yang membuka sesi pertama tepat pukul delapan pagi. Langkahnya kemudian diteruskan oleh Atropal Asparina pada sesi berikutnya pukul delapan lewat dua puluh lima menit, disusul Aurizan Himmi Azhar pukul delapan lewat lima puluh menit, serta Balqis Inas yang mengambil bagian pada pukul sembilan lewat lima belas menit.
Memasuki pertengahan sesi pagi menjelang siang, suasana pengujian semakin memanas tatkala Moh Arief Sah memasuki ruang virtual pada pukul sembilan lewat empat puluh menit, diikuti Muhammad Imaduddin Hidayat pukul sepuluh lewat lima menit, Nelly Ayu Apriliani pukul sepuluh lewat tiga puluh menit, dan ditutup oleh penampilan Nurun Sariyah yang tampil penuh percaya diri pada pukul sepuluh lewat lima puluh lima menit.
Ketentuan pelaksanaan ujian ini menuntut kedisiplinan tingkat dewa dari setiap peserta. Seluruh proses pengujian dilangsungkan secara daring menggunakan aplikasi pertemuan virtual dengan keharusan bagi setiap mahasiswa untuk mengaktifkan ruang tunggu digital sejak tiga puluh menit sebelum jadwal masing masing dimulai. Para penguji tidak sekadar duduk mendengarkan melainkan membongkar setiap premis yang diajukan para kandidat doktor dengan pertanyaan tajam yang menguji mentalitas akademik serta keluasan wawasan tafsir tematik maupun metodologis.
Di balik layar monitor yang memancarkan ketegangan tersebut, hadir tiga begawan ilmu Al Quran dan Tafsir yang bertindak sebagai tim penguji utama untuk seluruh delapan peserta ujian komprehensif ini. Mereka adalah Prof Dr H M Darwis Hude M Si sebagai penguji senior yang dikenal memiliki ketajaman analisis sosiologis dan teologis yang mendalam, didampingi oleh Prof Dr Nur Arfiyah Febriani M A yang senantiasa menyoroti aspek ketelitian metodologis serta kepekaan tafsir terhadap isu kemanusiaan dan gender, serta Assoc Prof Dr Muhammad Hariyadi M A yang memperkaya ruang sidang dengan kedalaman pemahaman fiqh al quran serta wawasan tekstual yang komprehensif.
Kehadiran ketiga mahaguru tersebut memastikan bahwa ujian komprehensif ini bukanlah sekadar formalitas administratif belaka melainkan sebuah penyaringan kualitas intelektual yang benar benar ketat. Setiap peserta dituntut untuk mampu mempertahankan disertasi atau proposal yang mereka ajukan di hadapan para pakar yang tidak ragu melontarkan kritik konstruktif demi menyempurnakan bangunan keilmuan yang sedang dibangun oleh para kandidat doktor.
Menyimak jalannya ujian dari balik rekaman video dokumentasi yang tersimpan rapi dalam arsip digital institusi, terlihat jelas betapa dinamika dialog antara penguji dan peserta mencerminkan pergulatan intelektual yang sangat bernas. Pertanyaan demi pertanyaan yang meluncur dari para profesor tidak dijawab dengan hafalan semata melainkan melalui proses sintesis pemikiran yang memadukan antara teks suci Al Quran dengan realitas sosial kemasyarakatan hari ini. Hal ini menunjukkan bahwa tradisi akademik di Universitas PTIQ Jakarta senantiasa hidup dan terus bertransformasi menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan akar keilmuan Islam yang autentik.
Menyaksikan detik demi detik jalannya ujian komprehensif ini memberikan sebuah kesegaran tersendiri di tengah hiruk pikuk pemberitaan politik yang sering kali melelahkan. Di ruang virtual yang sederhana ini, masa depan peradaban Islam Indonesia sedang ditempa oleh tangan tangan dingin para akademisi yang berdedikasi tinggi. Mereka yang duduk di depan layar hari ini adalah para penjaga gawang pemikiran keislaman masa depan yang kelak akan membawa panji tafsir Nusantara ke panggung global dengan argumen yang kokoh dan mencerahkan.
Peristiwa ini juga memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya ketekunan, kesiapan mental, dan integritas ilmiah. Menjadi seorang doktor ilmu Al Quran dan Tafsir bukanlah impian yang diraih dengan mudah melainkan melalui tetesan keringat intelektual dan kesiapan mental menghadapi terjangan kritik dari para guru besar. Delapan peserta yang tampil pada hari Kamis di penghujung Oktober ini telah membuktikan bahwa mereka memiliki keberanian untuk melangkah ke level tertinggi dunia akademik Islam kontemporer.