Semarang, 18 September 2024 - Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Pariwisata (STIEPARI) Semarang kembali membuktikan dedikasinya dalam pemberdayaan masyarakat melalui inovasi ekonomi kreatif. Tim pengabdian masyarakat STIEPARI, dipimpin oleh Dr. Dyah Palupiningtyas., SE., MSi, berhasil mentransformasi pemanfaatan Tanaman Obat Keluarga (TOGA) menjadi produk kosmetik alami bernilai ekonomi tinggi di Perumahan Green Semesta, Kelurahan Wates, Semarang.
Program inovatif berjudul "Inovasi Produk Kosmetik Alami Berbasis TOGA" ini berlangsung selama 8 bulan dan telah menghasilkan dua produk unggulan, "Lulur Herbal Semesta" dan "Green Glow Body Scrub". Keberhasilan ini menjadi bukti nyata kontribusi STIEPARI dalam mengembangkan ekonomi kreatif berbasis potensi lokal.
Yang menarik, program ini juga melibatkan mahasiswa STIEPARI secara aktif sebagai bagian dari implementasi Indikator Kinerja Utama (IKU) Perguruan Tinggi. "Keterlibatan mahasiswa dalam program ini merupakan wujud nyata dari komitmen STIEPARI dalam memberikan pengalaman belajar di luar kampus yang bermakna," ujar Dr. Dyah Palupiningtyas., SE., MSi
Sebanyak empat mahasiswa dari program studi S1 Manajemen terlibat langsung dalam kegiatan ini, mendapatkan pengalaman praktis dalam aspek produksi, manajemen, dan pemasaran produk kosmetik alami. Mahasiswa juga berkesempatan mengaplikasikan teori yang dipelajari di kelas dalam situasi nyata di masyarakat.
Puspita, salah satu mahasiswa yang terlibat, menyatakan, "Pengalaman ini sangat berharga. Kami tidak hanya belajar tentang kewirausahaan, tetapi juga bagaimana berinteraksi dengan masyarakat dan menciptakan dampak positif secara langsung."
Baca Juga: Tim Pengabdian Masyarakat STIEPARI Semarang Dampingi Transformasi Kampung Batik Malon
Keterlibatan mahasiswa ini juga memberikan kontribusi signifikan terhadap pencapaian IKU STIEPARI, khususnya dalam aspek pengalaman di luar kampus dan kelas yang kolaboratif dan partisipatif. Mahasiswa yang terlibat mendapatkan rekognisi SKS untuk mata kuliah terkait seperti Praktek Kewirausahaan, Manajemen Produksi, Pengantar Akuntansi, dan Manajemen Pemasaran.
Dr. Dyah Palupiningtyas menjelaskan, "STIEPARI mengusung pendekatan 'housewife creative' yang kami kembangkan khusus untuk membangkitkan kreativitas dan jiwa wirausaha ibu-ibu rumah tangga. Pendekatan ini terbukti efektif dalam mengoptimalkan potensi TOGA yang melimpah di lingkungan perumahan."
Keunggulan program STIEPARI terlihat dari hasil evaluasi yang menunjukkan peningkatan signifikan:
- Peningkatan pengetahuan dan keterampilan peserta sebesar 85%.
- Rencana dibentuknya kelompok usaha "Semesta Herbal Beauty" dengan anggota ibu-ibu PKK
- Tingkat kepuasan peserta terhadap program mencapai 95%.
Ibu Trining Kusumastuti Ibu Ketua PKK menyatakan, "STIEPARI tidak hanya memberikan pelatihan, tapi juga pendampingan intensif yang sangat berharga. Kini kami memiliki kegiatan produktif yang meningkatkan ekonomi keluarga sekaligus melestarikan kearifan lokal."
Ibu Haniek Listyorini., SE., MBA, Ketua STIEPARI Semarang, menekankan komitmen institusi dalam pengabdian masyarakat dan pendidikan berbasis pengalaman. "Keberhasilan program ini menegaskan posisi STIEPARI berusaha menjadi pionir dalam mengintegrasikan pendidikan, riset, dan pengabdian masyarakat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif, sekaligus memberikan pengalaman belajar yang holistik bagi mahasiswa kami."
Langkah selanjutnya, STIEPARI berencana:
- Memperluas variasi produk dan jangkauan pasar, termasuk eksplorasi e-commerce.
- Memfasilitasi standarisasi produk dan pengurusan sertifikasi BPOM.
- Mengembangkan modul pelatihan komprehensif untuk replikasi program di wilayah lain.
- Menginisiasi kerjasama dengan industri kosmetik untuk pengembangan produk lebih lanjut.
- Meningkatkan keterlibatan mahasiswa dalam program-program serupa sebagai bagian dari kurikulum berbasis pengalaman.
Keberhasilan STIEPARI dalam program ini mendemonstrasikan peran vital perguruan tinggi dalam mendorong inovasi, pemberdayaan masyarakat, dan pendidikan berbasis pengalaman. Model pemberdayaan ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi institusi pendidikan lain dalam mengembangkan program pengabdian masyarakat yang berdampak nyata, berkelanjutan, dan memberikan nilai tambah bagi mahasiswa.